http://muhariefeffendi.wordpress.com/2007/11/08/peranan-komite-audit-dalam-meningkatkan-kinerja-perusahaan/
Quality - Value - Innovation - Future Solutions Now - Jl. Burung Gereja SH No. 16 Bintaro Jaya Sektor 2, Jaksel 15412 Telepon & Fax : 021 - 7351946 HP : 08161905159 email : consulting.prima@yahoo.com
Friday, March 29, 2013
Tuesday, February 12, 2013
KECURANGAN DENGAN PENYALAHGUNAAN ALAT-ALAT LALU LINTAS PEMBAYARAN GIRAL
Salah satu bentuk dari jenis kecurangan yag secara tradisional terjadi dalam transaki perbankan adalah penyalahgunaan alat-alat lalu lintas pembayaran giral. Kecurangan jenis ini bisa terjadi oleh pihak ekstern bank, bahkan dalam satu komplotan atau sidikat kejahatan yang juga bisa melibatkan orang dalam bank itu sendiri. Alat-alat lalu litas pembayaran giral ini berbagai jenisnya, misalnya ; cek, bilyet giro, dokumen yang berkaitan dengan kliring dan transfer, inkaso dsb. Sasaran yang dituju bisa rekening nasabah di bank atau dana milik banknya.
Pembayaran Giral dalam penerbitan/pengeluaran Untuk melakukan tindakan penyalahgunaan alat-alat lalu lintas pembayaran giral ini dilakukan dengan cara memalsu atau mencetak sendiri formulir bank yang digunakan, caranya dengan mengorder pencetakan formulir atau dokumen ke percetakan, atau membuat warkat yang sama identik sehingga seolah-olah asli. Cara lainnya yang mungkin dilakukan juga dengan mencuri dari stock yang ada di bank.
1. Penyalahgunaan oleh penarik/pemegang Berbagai cara dilakukan oleh para pelaku untuk membobol bank ini. Nampaknya mereka melakukan persiapan yang serius dengan melakukan ; a. Pemalsuan identitas penarik b. Membuat identitas fiktif, seperti KTP, Paspor dsb. c. Melakukan penarikan namun tujuannya justru agar warkat yang diajukan tersebut supaya ditolak dan tentunya warkat yang ditolak tersebut dikembalikan padanya, setelah melalui proses di bank. Dari warkat yang dikembalikan tersebut dia akan memperoleh data contoh stempel bank ybs., tandatangan, paraf petugas bank. Data ini akan digunakannya sebagai contoh untuk alat pemalsuan dikemudian hari. d. Dalam teknis melakukan kejahatannya dia menghapus, mengubah, menambah data pada alat-alat giral. Mengganti dengan angka, huruf, nomor dsb, dengan maksud mengecoh bank dalam upaya pembobolannya. e. Penarik ini kemudian menandatangani alat-alat giral yang belum diisi lengkap f. Pemegang mengkopi alat-alat giral seperti Cek/BG dsb. Untuk dijadikan contoh model tindak kecurangan dan kejahatannya.
2. Penyalahgunaan oleh bank penagih Oknum bank penagih, yang menagihkan titipan kliring nasabah bisa melakukan kecurangan dengan penyalahgunaan sebagai berikut; a. Dilakukan oleh oknum bank penagih terhadap cek yang diamanatkan nasabah untuk dikliringkan namun sengaja tidak dibubuhkan stempel KLIRING padahal Cek-nya adalah cek pembawa, sehingga cek yang seharusnya dikliringkan tersebut dapat diuangkan secara tunai. b. Hasil kliring yang baik ternyata tidak dibukukan ke rekening penyetor sesuai dengan amanatnya, tapi dibukukannya ke rekening nasabah lainnya. c. Menghapus dan mengganti Stempel Kliring dari satu bank yang dituju ke bank lainnya.
3. Penyalahgunaan oleh Bank Pembayar a. Bank pembayar tidak segera membayar dengan alasan warkat cek atau BG diragukan kebenarannya. Hal ini bisa karena bank tsb. illikuid atau ada persekongkolan dengan orang lain. Kadangkala ini dilakukan atas permintaan nasabahnya, kemudian dibuatlah alasan seperti resi buku cek yang belum kembali. b. Bank tetap melakukan pembayaran, walaupun warkatnya tidak sesuai dengan syarat bank teknis yang seharusnya ditolaknya. Hal ini dilakukan dengan kerjasama pemegang rekening. c. Bank melakukan pembayaran atas beban bukan rekening penarik, artinya petugas bank ybs. membebankanya ke rekening nasabah lainnya. d. Bank melakukan pembayaran tanpa melalui prosedur dan tidak memenuhi syarat pembayaran
4. Penyalah gunaan oleh Penerima Pembayaran a. Penerima Pembayaran adalah orang yang tidak berhak. Seorang nasabah yang seharusnya menerima pembayaran dari hasil penagihannya, misalnya Cek yang dikliringkan, ternyata hasilnya masuk kepada rekening orang lain. Hal ini bisa terjadi baik karena dilakukan oleh petugas bank atau bisa juga perintah yang ditujukan kepada banknya diubah oleh orang yang tidak berhak. b. Penerima Pembayaran yang Dikuasakan Tidak Menyampaikan Pembayaran Kepada Yang Berhak. Seorang nasabah yang mengkuasakan untuk menagih sejumlah Cek/BG kepada karyawannya, bisa saja hasilnya tidak disetorkan ke rekening nasabahnya. Bisa diambil tunai maupun diubah penyetornnya ke rekeningnya atau rekening lainnya.
5. Penyalahgunaan dalam Lembaga Komunikasi Lembaga komunikasi ini adalah pihak yang mengirimkan alat giral dari pihak bank yang memberi perintah kepada bank yang akan melakukan amanat tersebut. Dia bisa Clearingman Bank, petugas lain, petugas ekspedisi untuk penagihan inkaso dsb. Cara yang bisa dilakukannya adalah; a. Sengaja mengubah, menambah/mengurangi data yg tercantum dalam alat giral tersebut. b. Sengaja melambatkan, tidak menyampaikan ke alamat yang berhak. c. Membuang atau memusnahkan alat-alat giral yang harus disampaikan. d. Membocorkan data yang tercantum pada alat-alat giral kepada yang tidak berhak dan merugikan perusahaan ybs.
6. Penyalahgunaan dengan Cek Untuk melakukan penyalah-gunaan cek, pelaku harus memiliki blanko cek asli atau palsu dan harus mengetahui data nasabah seperti, tandatangan yang sesuai spesimen di bank, mengetahui saldo nasabahnya. Hal ini diperoleh dengan berbagai cara seperti; mencuri dari nasabah secara langsung, mengakali atau bekerja sama dengan pegawai perusahaan nasabah, mengambil langsung dari bank dengan memalsu bukti pengambilan cek atau bisa dengan memalsu formulir cek. Cara Pencairan Cek. Setelah pelaku memiliki cek yang akan dijadikan media obyek pembobolan salah satu rekening nasabah bank secara lengkap dia datang ke bank untuk melakukan transaksi, bisa tunai ataupun disetorkan di bank lain untuk dikliringkan. a. Pengambilan Tunai. Dalam pencairan cek tunai, setelah memenuhi prosedur yang standar di teller, data legitimasi wajib tandatangani di balik cek. Penerima uang ini akan menggunakan identitas palsu untuk mempersulit penelusuran bank. b. Penguangan melalui Kliring (Cek/BG). Upaya pembobolan dengan cara melalui kliring biasanya jumlahnya relatif besar. Untuk itu pelaku telah mempersiapkan rekening penampungan di beberapa bank lain yang dibuka dengan identitas palsu. Bila kejahatan ini berlangsung lancar, penarikannya dilakukan tunai.
7. Penyalahgunaan dengan Nota Debet/Nota Kredit Penyalah-gunaan dengan Nota Debet (Debit Advice) atau Nota Kredit (Credit Advice) sangat pasti berkaitan dengan pihak intern bank. Dalam hal ini pelaku harus mengetahui data nasabah sperti tandatangan sesuai spesimen di bank, mengetahui saldo nasabah, tandatangan pejabat bank yang berhak untuk melakukan otorisasi atas transaksi bank. Adapun cara penyalahgunaan dengan Nota Debet (D/A) atau Nota Kredit (C/A) ini adalah a. Memindahkan dana atas beban suatu rekening nasabah ke rekening nasabah lain dengan Nota Debet/Kredit dalam satu bank, tanpa perintah dari nasabah. b. Pemindahan dana nasabah tanpa amanatnya ini bisa juga di kliring-kan ke bank lain c. Kemudian penarikannya di bank lain tersebut dilakukan melalui rekening yang memang telah dipersiapkan.
8. Penyalahgunaan dengan surat-surat Transfer Praktik penyalahgunaan transaksi dengan surat-surat transfer ini memerlukan kerja sama dan pengetahuan bank operasional yang cukup. Karenanya, bila cara ini sukses bisa berarti bahwa ada kaitannya dengan pihak intern bank. Dalam hal ini pelaku harus mengetahui data seperti; tandatangan pejabat bank yang berhak, stempel cap kantor cabang bank ybs., angka kode rahasia, mengetahui data saldo rekening nasabah yang akan dijadikan obyek. Cara melakukan penyalahgunaan surat-surat transfer ini bisa dengan cara sebagai berikut; Pelaku memalsukan permintaan transfer berdasar data yang tersedia, setelah mengetahui rekening nasabah, saldonya, tandatangan nasabah (dipalsukan), dengan amanat untuk ditransferkan ke rekening lain di cabang bank yang berbeda. Bila officer bank tidak waspada dan transfer ini bisa berjalan ke alamat rekning yang dituju, maka pengambilan dananya bisa tunai atau di kliringkan lagi ke bank lain.
9. Pengamanan Untuk melakukan mencegah terjadinya hal ini maka langkah pengamanan yang perlu dilakukan bank adalah antara lain ; Setiap pencetakan atau penerbitan alat-alat LL Giral seharusnya diberi nomor seri (pre numbered). Adanya kesergaman bentuk, ukuran dan redaksi dari warkat LL Giral tersebut. Mutu kertas yang terjamin Dalam melakukan pengelolaannya selalu memenuhi ketentuan dari pihak Bank Indonesia. Dalam menerima pembukaan rekening nasabah harus selalu memenuhi syarat security yang sudah ditetapkan bank, seperti kelengkapan; KTP, Referensi, Izin-izin Usaha, dll. Selanjutnya dilakukan konfirmasi kepada alamat nasabah bilamana terdapat hal-hal yang meragukan. Melaksanakan prinsip mengenal nasabah sebaik-baiknya sesuai ketentuan BI. Dilakukan teknik kontrol prosedur dengan; kode rahasia yang telah standar, kartu spesimen terpelihara baik dan rekening-rekening nasabah yang dipelihara di bank, sehingga satu dengan lainnya bisa saling cek. Setiap transaksi yang merupakan pembebanan atas satu rekening harus selalu didasari atas dokumen yg sah. Dalam pelaksanaan kerja sehari-hari seharusnya berpatokan pada ketentuan intern tentang delegation of authority terhadap fiat bayar sesuai span of control petugas bank berdasar wewenang dan tanggung jawab yang jelas. Perlunya kepatuhan setiap petugas bank terhadap penggunaan komputer, terutama dalam hal penggunaan password dan users ID, agar selalu dapat terjaga kerahasiaannya dan tidak terjadi kebocoran kepada pihak yang tidak berhak. WsWw Tjukria P. Tawaf
http://www.antaranews.com/berita/258544/kejahatan-perbankan-gunakan-modus-pencucian-uang
Friday, February 8, 2013
EVALUASI PEREKONOMIAN TAHUN 2012, PROSPEK 2013-2014, DAN KEBIJAKAN BANK INDONESIA
http://www.bi.go.id/web/id/Publikasi/Kebijakan+Moneter/Tinjauan+Kebijakan+Moneter/TKM_0113.htm
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 10
Januari 2013 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 5,75%.
Tingkat suku bunga tersebut dinilai masih konsisten dengan sasaran
inflasi tahun 2013 dan 2014, sebesar 4,5% ± 1%. Evaluasi menyeluruh
terhadap kinerja tahun 2012 dan prospek tahun 2013-2014 menunjukkan
perekonomian Indonesia tumbuh cukup tinggi dengan inflasi yang tetap
terkendali dan rendah. Kinerja tersebut tidak terlepas dari berbagai
kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia dan Pemerintah untuk menjaga
stabilitas makro dan momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah
perlambatan ekonomi dunia. Fokus kebijakan Bank Indonesia saat ini
diarahkan untuk mengelola keseimbangan eksternal dan stabilitas nilai
tukar Rupiah sesuai kondisi fundamentalnya. Ke depan, Bank Indonesia
juga akan memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudensial serta
mempererat koordinasi dengan Pemerintah untuk mengelola permintaan
domestik agar sejalan dengan upaya menjaga keseimbangan eksternal,
mencapai sasaran inflasi, dan kesinambungan pertumbuhan ekonomi
nasional.
Pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2012 lebih
rendah dari tahun sebelumnya. Hal ini utamanya disebabkan oleh ekonomi
Eropa yang masih mengalami kontraksi akibat krisis utang. Sementara itu,
ekonomi Amerika Serikat (AS) mulai membaik meskipun masih rentan dan
dibayangi isu keterbatasan stimulus fiskal (fiscal cliff). Di sisi lain,
pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang mulai melambat,
khususnya China dan India yang merupakan mitra dagang Indonesia.
Pertumbuhan ekonomi global yang melambat juga diikuti dengan harga
komoditas yang turun cukup tajam. Sejalan dengan itu, respons kebijakan
negara-negara maju cenderung akomodatif. Ke depan, perekonomian dunia
diprakirakan akan tumbuh lebih baik dan harga komoditas dunia juga akan
mengalami kenaikan.
Perekonomian Indonesia pada 2012 tumbuh cukup tinggi
sebesar 6,3% dan diprakirakan akan meningkat pada 2013 dan 2014. Daya
tahan perekonomian selama ini didukung oleh stabilitas makro dan sistem
keuangan yang terjaga sehingga mampu memperkuat basis permintaan
domestik. Kinerja konsumsi rumah tangga dan investasi yang meningkat
mampu menahan dampak turunnya pertumbuhan ekspor terutama mulai paruh
kedua 2012. Dari sisi produksi, pertumbuhan ekonomi terutama ditopang
oleh kinerja sektor Industri Pengolahan, sektor Perdagangan, Hotel, dan
Restoran, serta sektor Pengangkutan dan Komunikasi. Dari sisi kawasan,
kesenjangan pertumbuhan ekonomi antar daerah semakin berkurang,
tercermin dari kontribusi pertumbuhan ekonomi di Kawasan Timur Indonesia
(KTI) yang semakin baik. Pada tahun 2013-2014, perekonomian Indonesia
diprakirakan dapat mencapai kisaran masing-masing 6,3% - 6,8% dan 6,7% -
7,2%. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh konsumsi yang terus meningkat
dan investasi yang tetap kuat, sementara ekspor diprakirakan akan
membaik.
Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada tahun
2012 masih mencatat surplus, meskipun mengalami tekanan defisit
transaksi berjalan. Melemahnya permintaan dari negara-negara mitra
dagang dan merosotnya harga komoditas ekspor berdampak pada menurunnya
kinerja ekspor. Di sisi lain, impor masih tumbuh cukup tinggi, terutama
dalam bentuk barang modal dan bahan baku, sejalan dengan meningkatnya
kegiatan investasi. Tingginya impor juga tercatat pada komoditas migas
akibat melonjaknya konsumsi BBM, sehingga berdampak pada defisit neraca
migas yang terus meningkat dan menambah tekanan pada defisit transaksi
berjalan. Sementara itu, transaksi modal dan finansial mencatat kenaikan
surplus yang cukup besar terutama didukung oleh investasi langsung
(PMA) dan arus masuk modal portofolio, baik dalam pasar saham maupun
pasar obligasi, yang lebih tinggi dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Dengan perkembangan tersebut, cadangan devisa sampai dengan akhir
Desember 2012 mencapai 112,78 miliar dolar AS, atau setara dengan 6,1
bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah. Ke depan, Bank
Indonesia tetap mewaspadai perkembangan defisit transaksi berjalan dan
akan terus mempererat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah agar
defisit tersebut menurun ke tingkat yang sustainable sehingga
keseimbangan eksternal tetap terjaga.
Nilai tukar Rupiah pada 2012 mengalami depresiasi
dengan volatilitas yang cukup rendah. Rupiah secara point-to-point
melemah 5,91% (yoy) selama tahun 2012 ke level Rp9.638 per dolar AS.
Tekanan depresiasi terutama terjadi pada triwulan II dan III tahun 2012
terkait dengan memburuknya kondisi perekonomian global, khususnya di
kawasan Eropa, yang berdampak pada penurunan arus masuk portfolio asing
ke Indonesia. Dari sisi domestik, tekanan Rupiah berasal dari tingginya
permintaan valas untuk keperluan impor di tengah perlambatan kinerja
ekspor. Nilai tukar Rupiah kembali bergerak stabil pada triwulan IV-2012
seiring dengan peningkatan arus masuk modal asing yang cukup besar,
baik dalam bentuk arus masuk modal portofolio maupun investasi langsung.
Ke depan, Bank Indonesia akan terus menjaga stabilitas nilai tukar
Rupiah sesuai dengan kondisi fundamental perekonomian.
Inflasi sepanjang tahun 2012 tetap terkendali pada
level yang rendah dan berada pada kisaran sasaran inflasi sebesar
4,5%±1%. Terkendalinya inflasi tersebut sebagai hasil dari berbagai
kebijakan Bank Indonesia dan didukung oleh semakin baiknya koordinasi
kebijakan dengan Pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah. Inflasi
2012 mencapai 4,30% (yoy) terutama didorong oleh inflasi inti yang
stabil, inflasi volatile food yang terkendali dan inflasi administered
prices yang rendah. Inflasi inti yang stabil didukung oleh penerapan
strategi bauran kebijakan moneter dan makroprudensial sehingga tekanan
inflasi dari sisi permintaan, harga komoditas impor, dan ekspektasi
inflasi tetap terkendali. Selain itu, terjaganya inflasi juga didukung
oleh koordinasi yang semakin intensif antara Bank Indonesia dan
Pemerintah melalui forum TPI dan TPID, terutama pada upaya peningkatan
produksi, kelancaran distribusi, dan stabilisasi harga pangan strategis.
Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam
kisaran sasaran 4,5% ± 1% pada tahun 2013 dan tahun 2014.
Stabilitas sistem keuangan dan fungsi intermediasi
perbankan tetap terjaga dengan baik. Kinerja industri perbankan yang
solid tercermin pada tingginya rasio kecukupan modal (CAR/Capital
Adequacy Ratio) yang mencapai 17,4% dan rendahnya rasio kredit
bermasalah (NPL/Non Performing Loan) gross sekitar 2% pada November
2012. Sementara itu, pertumbuhan kredit hingga akhir November 2012
mencapai 22,3% (yoy), dan diperkirakan mencapai sekitar 23% pada akhir
tahun 2012. Sejalan dengan meningkatnya investasi, kredit investasi
tumbuh cukup tinggi, sebesar 29,8% (yoy) dan kredit modal kerja tumbuh
26,1% (yoy) sehingga diharapkan dapat meningkatkan kapasitas
perekonomian nasional. Sementara itu, kredit konsumsi tumbuh 12,1% (yoy)
antara lain terkait dengan penerapan kebijakan pengaturan besaran rasio
LTV (loan to value) dan minimum uang muka, untuk menjaga pertumbuhan
kredit yang sehat di sektor konsumtif. Sejalan dengan prospek
perekonomian mendatang, stabilitas sistem keuangan akan tetap terjaga
dengan fungsi intermediasi perbankan yang akan meningkat.
Ke depan, kebijakan Bank Indonesia akan diarahkan
untuk mengelola permintaan domestik agar sejalan dengan upaya untuk
menjaga keseimbangan eksternal. Bank Indonesia akan terus memperkuat
bauran kebijakan melalui lima pilar kebijakan. Pertama, kebijakan suku
bunga akan ditempuh secara konsisten dengan prakiraan inflasi ke depan
agar tetap terjaga dalam kisaran target yang ditetapkan. Kedua,
kebijakan nilai tukar akan diarahkan untuk menjaga pergerakan Rupiah
sesuai dengan kondisi fundamentalnya. Ketiga, kebijakan makroprudensial
diarahkan untuk menjaga kestabilan sistem keuangan dan mendukung
terjaganya keseimbangan internal maupun eksternal. Keempat, penguatan
strategi komunikasi kebijakan untuk mengelola ekspektasi inflasi.
Kelima, penguatan koordinasi Bank Indonesia dan Pemerintah dalam
mendukung pengelolaan ekonomi makro, khususnya dalam memperkuat struktur
perekonomian, memperluas sumber pembiayaan ekonomi, penguatan respons
sisi penawaran, serta pemantapan Protokol Manajemen Krisis (PMK).
Monday, January 28, 2013
Menangkal Kejahatan Perbankan
KORAN JAKARTA/ZAKI MUHAMMAD
Para penjahat memanfaatkan teknologi informasi untuk
melakukan aksi kejahatan perbankan dengan pelbagai modus. Lalu,
bagaimana cara membendung dan mengatasi aksi kejahatan perbangkan ini?
Kejahatan perbankan biasanya dilakukan melalui berbagai saluran, seperti ATM (automated teller machine) dan call center. Ragam produk perbankan yang diambil nasabah dari perbankan juga dapat digunakan sebagai akses untuk melakukan kejahatan perbankan, di antaranya kartu ATM, kartu kredit, dan fasilitas kredit rumah.
Selain itu, beragam bentuk kegiatan online yang berisiko dilakukan nasabah perbankan seperti cek saldo, pembayaran tagihan, atau pentransferan dana. Para penjahat perbankan melakukan peretasan terhadap aktivitas nasabah ini melalui virus yang dikenal dengan nama Zeus dan SpyEye.
Zeus dan SpyEye masuk ke situs perbankan melalui akses yang dilakukan nasabah untuk phishing (mencuri dana nasabah) dengan cara memindahkan dana nasabah ke penjahat perbankan. Model ini diakui Trend Micro terjadi di Amerika Serikat (AS), Jerman, dan Italia.
Kaspersky juga menemukan virus yang bertujuan mencuri data nasabah bernama Gauss. Virus dideteksi sebagai keturunan Stuxnet, Duqu, dan Flame. Pola kerja yang dilakukan Gauss dengan memanfaatkan rekaman transaksi yang dilakukan nasabah pada suatu browser, cookies, nama pengguna dan kata kunci, serta konfigurasi sistem.
Saat ini, nasabah Citibank dan PayPal menjadi sasaran penjahat perbankan. "Pembuat virus biasanya menciptakan virus untuk menyerang semua bank," ujar Costin Raiu, direktur Penelitian Global dan Analis Kaspersky.
Aksi Tipu
Modus lain penjahat perbankan ialah memasang situs palsu yang mirip dengan milik bank asli. Situs ini meminta nasabah memasukkan mulai dari nama pengguna, kata kunci, hingga data pribadi. Ujung-ujungnya, penjahat menyalagunakan identitas tersebut sebagai transaksi tanpa sepengetahuan dan seizin nasabah.
Situs palsu Bank Mandiri juga sempat muncul membidik nasabah bank tersebut. Dari penelitian Computer Security Incident Response Team (CSIRT), situs ini bukan milik Bank Mandiri dan tidak berada di Indonesia.
Kemungkinan kejahatan keuangan dilakukan dari negara lain diamini Ben Knieff, direktur pemasaran Nice Actimize. Ini bisa dilakukan dengan internet.
Report to the Nations 2012 yang dirilis Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) menyebutkan 5 persen dari total pendapatan yang diperoleh perusahaan dicuri penjahat keuangan. Angka ini diperoleh dari penelitian di 96 negara dengan total kerugian 3,5 triliun dollar AS.
Ada tiga daerah terbesar mengalami kejahatan keuangan, yakni Amerika Serikat 778 kasus dengan kerugian 120.000 dollar AS, kemudian, Asia 294 kasus senilai 195.000 dollar AS, dan Eropa 234 kasus sebesar 250 dollar AS. Sebanyak 16,6 persen kasus yang terjadi dialami sektor perbankan dan keuangan.
Deteksi Dini
Ada solusi yang bisa digunakan perbankan untuk meredam aksi fraud (penipuan). Salah satu yang disediakan adalah SAS Enterprise Financial Crime Framework. Dari hal ini dapat dilakukan empat hal yaitu kemampuan pengelolaan data, deteksi dan peringatan dari perangkat-perangkat yang ada, peringatan secara fleksibel dari kemampuan suatu pengelolaan, analisis jaringan penipuan, dan kemampuan pengelolaan suatu kasus.
Dari kemampuan pengelolaan data dapat diketahui oleh perbankan suatu gambaran bentuk transaksi, tempat transaksi, mengapa transaksi disetujui, dan bagaimana suatu transaksi itu bisa disetujui. Beragam deteksi dan peringatan dari perangkat yang ada bisa dilakukan pada transaksi yang tidak normal dari biasanya, merekam kebiasaan transaksi nasabah, dan memperkirakan transaksi di luar kewajaran.
Peringatan secara fleksibel dari kemampuan suatu pengelolaan yang terdapat pada SAS Enterprise Financial Crime bisa dilakukan perbankan suatu peringatan dari sistem pengawasan yang ada. Kemudian, analisis jaringan penipuan menyuguhkan analisis semua aktivitas nasabah dengan jaringan kegiatan.
Manfaat lain yang terasa dari SAS Enterprise Financial Crime adalah menunjang penyelidikan bila terjadi aksi fraud dari aktivitas yang ada. Salah satu perusahaan yang menggunakan solusi ini adalah Bank Australia.
Nice Actimize menyodorkan solusi penanganan fraud di Indonesia berupa Actimize Integrated Fraud Management Suite. Mitra lokal yang digandeng di Tanah Air adalah Q2 Technologies. "Kami menawarkan solusi penipuan, pencucian uang, dan manajemen risiko untuk korporasi termasuk bank," urai Raghav Sahgal, Presiden Nice Actimize Asia Pacific (APAC).
Hal yang dapat ditanggulangi Actimize Integrated Fraud Management Suite berupa penipuan kartu kredit, situs perbankan, tabungan, pembayaran retail, dan penipuan yang dilakukan karyawan internal suatu perusahaan. Perangkat ini juga berfungsi sebagai sistem pengawasan, analisis data terstruktur dan tidak terstruktur, serta solusi keamanan.
Salah satu fitur yang terdapat pada Actimize Integrated Fraud Management Suite adalah Actimize Core Risk Platform yang bisa menyusun model analisis dan proses bisnis perusahaan masing-masing.
Solusi Actimize Integrated Fraud Management Suite yang hadir pada saat sekarang merupakan generasi keempat. Sebanyak 250 perusahaan termasuk 10 bank global telah menggunakan solusi tersebut. mochamad ade maulidin
http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/101815
Kejahatan perbankan biasanya dilakukan melalui berbagai saluran, seperti ATM (automated teller machine) dan call center. Ragam produk perbankan yang diambil nasabah dari perbankan juga dapat digunakan sebagai akses untuk melakukan kejahatan perbankan, di antaranya kartu ATM, kartu kredit, dan fasilitas kredit rumah.
Selain itu, beragam bentuk kegiatan online yang berisiko dilakukan nasabah perbankan seperti cek saldo, pembayaran tagihan, atau pentransferan dana. Para penjahat perbankan melakukan peretasan terhadap aktivitas nasabah ini melalui virus yang dikenal dengan nama Zeus dan SpyEye.
Zeus dan SpyEye masuk ke situs perbankan melalui akses yang dilakukan nasabah untuk phishing (mencuri dana nasabah) dengan cara memindahkan dana nasabah ke penjahat perbankan. Model ini diakui Trend Micro terjadi di Amerika Serikat (AS), Jerman, dan Italia.
Kaspersky juga menemukan virus yang bertujuan mencuri data nasabah bernama Gauss. Virus dideteksi sebagai keturunan Stuxnet, Duqu, dan Flame. Pola kerja yang dilakukan Gauss dengan memanfaatkan rekaman transaksi yang dilakukan nasabah pada suatu browser, cookies, nama pengguna dan kata kunci, serta konfigurasi sistem.
Saat ini, nasabah Citibank dan PayPal menjadi sasaran penjahat perbankan. "Pembuat virus biasanya menciptakan virus untuk menyerang semua bank," ujar Costin Raiu, direktur Penelitian Global dan Analis Kaspersky.
Aksi Tipu
Modus lain penjahat perbankan ialah memasang situs palsu yang mirip dengan milik bank asli. Situs ini meminta nasabah memasukkan mulai dari nama pengguna, kata kunci, hingga data pribadi. Ujung-ujungnya, penjahat menyalagunakan identitas tersebut sebagai transaksi tanpa sepengetahuan dan seizin nasabah.
Situs palsu Bank Mandiri juga sempat muncul membidik nasabah bank tersebut. Dari penelitian Computer Security Incident Response Team (CSIRT), situs ini bukan milik Bank Mandiri dan tidak berada di Indonesia.
Kemungkinan kejahatan keuangan dilakukan dari negara lain diamini Ben Knieff, direktur pemasaran Nice Actimize. Ini bisa dilakukan dengan internet.
Report to the Nations 2012 yang dirilis Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) menyebutkan 5 persen dari total pendapatan yang diperoleh perusahaan dicuri penjahat keuangan. Angka ini diperoleh dari penelitian di 96 negara dengan total kerugian 3,5 triliun dollar AS.
Ada tiga daerah terbesar mengalami kejahatan keuangan, yakni Amerika Serikat 778 kasus dengan kerugian 120.000 dollar AS, kemudian, Asia 294 kasus senilai 195.000 dollar AS, dan Eropa 234 kasus sebesar 250 dollar AS. Sebanyak 16,6 persen kasus yang terjadi dialami sektor perbankan dan keuangan.
Deteksi Dini
Ada solusi yang bisa digunakan perbankan untuk meredam aksi fraud (penipuan). Salah satu yang disediakan adalah SAS Enterprise Financial Crime Framework. Dari hal ini dapat dilakukan empat hal yaitu kemampuan pengelolaan data, deteksi dan peringatan dari perangkat-perangkat yang ada, peringatan secara fleksibel dari kemampuan suatu pengelolaan, analisis jaringan penipuan, dan kemampuan pengelolaan suatu kasus.
Dari kemampuan pengelolaan data dapat diketahui oleh perbankan suatu gambaran bentuk transaksi, tempat transaksi, mengapa transaksi disetujui, dan bagaimana suatu transaksi itu bisa disetujui. Beragam deteksi dan peringatan dari perangkat yang ada bisa dilakukan pada transaksi yang tidak normal dari biasanya, merekam kebiasaan transaksi nasabah, dan memperkirakan transaksi di luar kewajaran.
Peringatan secara fleksibel dari kemampuan suatu pengelolaan yang terdapat pada SAS Enterprise Financial Crime bisa dilakukan perbankan suatu peringatan dari sistem pengawasan yang ada. Kemudian, analisis jaringan penipuan menyuguhkan analisis semua aktivitas nasabah dengan jaringan kegiatan.
Manfaat lain yang terasa dari SAS Enterprise Financial Crime adalah menunjang penyelidikan bila terjadi aksi fraud dari aktivitas yang ada. Salah satu perusahaan yang menggunakan solusi ini adalah Bank Australia.
Nice Actimize menyodorkan solusi penanganan fraud di Indonesia berupa Actimize Integrated Fraud Management Suite. Mitra lokal yang digandeng di Tanah Air adalah Q2 Technologies. "Kami menawarkan solusi penipuan, pencucian uang, dan manajemen risiko untuk korporasi termasuk bank," urai Raghav Sahgal, Presiden Nice Actimize Asia Pacific (APAC).
Hal yang dapat ditanggulangi Actimize Integrated Fraud Management Suite berupa penipuan kartu kredit, situs perbankan, tabungan, pembayaran retail, dan penipuan yang dilakukan karyawan internal suatu perusahaan. Perangkat ini juga berfungsi sebagai sistem pengawasan, analisis data terstruktur dan tidak terstruktur, serta solusi keamanan.
Salah satu fitur yang terdapat pada Actimize Integrated Fraud Management Suite adalah Actimize Core Risk Platform yang bisa menyusun model analisis dan proses bisnis perusahaan masing-masing.
Solusi Actimize Integrated Fraud Management Suite yang hadir pada saat sekarang merupakan generasi keempat. Sebanyak 250 perusahaan termasuk 10 bank global telah menggunakan solusi tersebut. mochamad ade maulidin
http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/101815
Lima Bulan, Seribu Kejahatan Perbankan
Bank Indonesia mencatat, da dua kasus yang mendominasi laporan fraud
sepanjang tahun ini, yakni kasus pencurian identitas nasabah dan kasus
card not presense (CNP).
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ronald Waas di Jakarta, kamis (5/7/2012) menjelaskan bahwa kasus kejahatan online tanpa menggunakan kartu sebagai kejahatan perbankan terbanyak yang dilaporkan nasabah sepanjang Januari-Mei 2012.
Berdasarkan data BI, selama lima bulan pertama tahun ini ada 1.009 laporan kasus kejahatan perbankan. Nilai kerugian mencapai Rp 2,37 miliar. Kasus pencurian identitas nasabah paling banyak diadukan.
Total aduan mencapai 458 laporan dengan nilai kerugian Rp 545 juta yang dialami 18 penerbit kartu. Adapun pengaduan terkait dengan pencurian identitas mencapai 402 laporan dengan nilai kerugian Rp 1,14 miliar.

Ronald menuturkan, dalam era layanan perbankan elektronik berbasis teknologi informasi seperti sekarang ada beberapa titik rawan terkait dengan keamanan. Pertama, kerawanan prosedur perbankan, yaitu lemahnya identifikasi dan validasi calon nasabah, sehingga mudah dilakukan pemalsuan identitas.
Kedua, kerawanan fisik. Kartu ATM yang digunakan saat ini jenisnya masih magnetic stripe card yang tidak dilengkapi pengaman chip (smart card) sehingga skimming PIN mudah dilakukan.
Ketiga, kerawanan aplikasi yang terkait dengan sistem keamanan dalam aplikasi. Keempat, kerawanan perilaku yang terkait dengan kecerobohan nasabah ataupun bank ketika bertransaksi.
Sehubungan dengan hal itu, Ronald mencontohkan, transaksi menggunakan kartu kredit untuk pembelian bahan bakar kendaraan di pom bensin. Nasabah memberikan kartu kreditnya kepada petugas.
"Identitas seperti nama dan nomor kartu 3 digit di belakang bisa diketahui. Ini mudah sekali kalau jenis kartu magnetic stripe card. Kalau chip bisa aman," katanya.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ronald Waas di Jakarta, kamis (5/7/2012) menjelaskan bahwa kasus kejahatan online tanpa menggunakan kartu sebagai kejahatan perbankan terbanyak yang dilaporkan nasabah sepanjang Januari-Mei 2012.
Berdasarkan data BI, selama lima bulan pertama tahun ini ada 1.009 laporan kasus kejahatan perbankan. Nilai kerugian mencapai Rp 2,37 miliar. Kasus pencurian identitas nasabah paling banyak diadukan.
Total aduan mencapai 458 laporan dengan nilai kerugian Rp 545 juta yang dialami 18 penerbit kartu. Adapun pengaduan terkait dengan pencurian identitas mencapai 402 laporan dengan nilai kerugian Rp 1,14 miliar.
Ronald menuturkan, dalam era layanan perbankan elektronik berbasis teknologi informasi seperti sekarang ada beberapa titik rawan terkait dengan keamanan. Pertama, kerawanan prosedur perbankan, yaitu lemahnya identifikasi dan validasi calon nasabah, sehingga mudah dilakukan pemalsuan identitas.
Kedua, kerawanan fisik. Kartu ATM yang digunakan saat ini jenisnya masih magnetic stripe card yang tidak dilengkapi pengaman chip (smart card) sehingga skimming PIN mudah dilakukan.
Ketiga, kerawanan aplikasi yang terkait dengan sistem keamanan dalam aplikasi. Keempat, kerawanan perilaku yang terkait dengan kecerobohan nasabah ataupun bank ketika bertransaksi.
Sehubungan dengan hal itu, Ronald mencontohkan, transaksi menggunakan kartu kredit untuk pembelian bahan bakar kendaraan di pom bensin. Nasabah memberikan kartu kreditnya kepada petugas.
"Identitas seperti nama dan nomor kartu 3 digit di belakang bisa diketahui. Ini mudah sekali kalau jenis kartu magnetic stripe card. Kalau chip bisa aman," katanya.
Kejahatan Bank: Manipulasi di Pasar Uang
Senin, 28/01/2013
Kejahatan Bank: Manipulasi di Pasar Uang
PENULIS : Nur Cahyo
Plasadana.com - Hasil investigasi sebuah bank di Singapura menemukan kejahatan kolektif yang dilakukan oleh para pialang di pasar uang. Mereka naik-turunkan kurs di pasar derivatif lewat kesepakatan yang bersifat kolusi.
Kasus serupa pada tahun lalu terjadi untuk suku bunga antarbank London atau LIBOR, yang biasanya jadi patokan pinjaman dana dari Eropa. Ketika itu, para eksekutif bank berkolusi menetapkan suku bunga, demi keuntungan kantong mereka, tak peduli peminjam dirugikan.
Kali ini terjadi untuk transaksi mata uang negara-negara yang sedang berkembang. Sejumlah pialang pasar uang dari sejumlah bank, saling komunikasi melalui pesan elektronik untuk menetapkan kurs yang mereka inginkan.
Kurs tersebut ditetapkan untuk transaksi derivatif non-deliverable foreign exchange forwards (NDFs). Lewat instrumen ini, perusahaan atau investor bisa melakukan lindung nilai (hedge) kewajibannya pada nilai tertentu, atau mereka juga bisa berspekulasi di pasar mata uang.
Komunikasi yang biasa mereka lakukan seperti ini: "Hei, saya butuh bantuan Anda. Tetapkan di harga bawah," tutur seorang sumber di bank Singapura kepada Reuters, menceritakan model kolusi para pialang itu.
Kelakuan kolusi mereka ini tentu saja akan berdampak pada pasar spot atau pasar transaksi langsung mata uang. Jadi, pergerakan harga bukan kehendak pasar, melaikan kehendak para pialang itu sendiri.
PENULIS : Nur Cahyo
Plasadana.com - Hasil investigasi sebuah bank di Singapura menemukan kejahatan kolektif yang dilakukan oleh para pialang di pasar uang. Mereka naik-turunkan kurs di pasar derivatif lewat kesepakatan yang bersifat kolusi.
Kasus serupa pada tahun lalu terjadi untuk suku bunga antarbank London atau LIBOR, yang biasanya jadi patokan pinjaman dana dari Eropa. Ketika itu, para eksekutif bank berkolusi menetapkan suku bunga, demi keuntungan kantong mereka, tak peduli peminjam dirugikan.
Kali ini terjadi untuk transaksi mata uang negara-negara yang sedang berkembang. Sejumlah pialang pasar uang dari sejumlah bank, saling komunikasi melalui pesan elektronik untuk menetapkan kurs yang mereka inginkan.
Kurs tersebut ditetapkan untuk transaksi derivatif non-deliverable foreign exchange forwards (NDFs). Lewat instrumen ini, perusahaan atau investor bisa melakukan lindung nilai (hedge) kewajibannya pada nilai tertentu, atau mereka juga bisa berspekulasi di pasar mata uang.
Komunikasi yang biasa mereka lakukan seperti ini: "Hei, saya butuh bantuan Anda. Tetapkan di harga bawah," tutur seorang sumber di bank Singapura kepada Reuters, menceritakan model kolusi para pialang itu.
Kelakuan kolusi mereka ini tentu saja akan berdampak pada pasar spot atau pasar transaksi langsung mata uang. Jadi, pergerakan harga bukan kehendak pasar, melaikan kehendak para pialang itu sendiri.
Subscribe to:
Posts (Atom)
